Rasa kasih sayang orang tua pastinya besar namun kadangkala tidak demikian bila itu orang tua suami. Memang aku cukup iri pada perhatian ibu pada kakak ipar karena selalu mendapat perhatian ibu mertua bahkan sekedar untuk hp saja dia dibelikan kakak ipar. Aku hanya diminta membantu cara memindah data sama menggunakan saja agar ibu bisa menggunakan telfonnya karena dirumah sudah ada WiFi.
Aku kecewa kenapa bilangnya bukan pada suami malah minta tolong kakak yang jauh sehingga harus dikirim dari sana. Belum selesai kecewaku ternyata kakak ipar sudah mengabari kangen kami via video call. Memang ia hanya bisa pulang 1 tahun sekali sehingga berkomunikasi via ponsel lebih nyaman. Aku sebenarnya sedih mengapa mertuaku begitu perhatian padanya sedang kami yang ada didekatnya diabaikan. Kala itu handphone mertuaku tak berfungsi dengan baik sehingga dia meminta tolong padaku untuk mengecek.
Aku otak Atik berkali-kali ternyata normal lalu aku coba telfon nomerku dan betapa kagetnya aku saat tahu diponsel ibu tertulis "PUTRI BUNGSU". Masih tidak percaya aku telfon ulang sampai berkali-kali untuk meyakinkan kebenarannya Ternyata selama ini kau salah sangka. Ibuku menganggap aku putrinya bukan seperti pikiranku selama ini. Aku setelah kaget setengah mati lalu kubukalah hp ibu mertuaku dan tak kutemukan banyak nomer ternyata semua tertulis demikian. Suami "putra bungsu" kakak ipar "putri sulung".
Diantara semuanya tidak ada yang dibedakan. Kekagetan itu aku tanyakan pada ibu dan jawabannya "kamu memang putriku paling kecil makanya putri bungsu". Hatiku sangat tersentuh betapa salahnya selama ini, aku menganggap ia hanyalah ibu mertua yang tak menyayangi aku. Bahkan lebih sayang kakak iparku. Diponselku saja aku tulis ibu mertua "MAMA SUAMI".
Aku selama ini menganggap ia adalah ibu dari suami saja karena aku hanya menantunya ternyata ia mengaggap aku putrinya bukan membuat jarak seperti pikiranku. Bahkan kakak ipar yang aku cemburui dan ku benci menilai aku sebagai adiknya bukan orang luar. Dari hal itu pula aku tahu ternyata mengapa kakak membelikan smartphone buat ibu agar bisa Video call dengan kami semua bukan sekedar mendengar suara kami. Kejadian itu membuatku merasa bersalah dan ingin kuperbaiki semuanya.
Kadang kita selalu berpikir orang lain itu buruk sekali padahal sebenarnya ia baik pada kita. Menyayangi sepenuh hatinya tanpa mengharap imbalan apa-apa tetapi kitalah malah berpikir mereka jahat pada kita. Menolong ada maunya, membantu karena berharap imbalan maupun sejenisnya. Padahal itu hanyalah pikiran kita.
Sumber referensi:cerpen.co.id serta analisis Penulis