Di tengah kesibukan bekerja serta mengerjakan tugas lainnya, banyak para wanita yang memilih menggunakan bumbu atau kaldu instan untuk memasak. Dengan bumbu instan tersebut, masak jadi lebih praktis dan tidak membutuhkan waktu lama.
Tak heran berdasarkan laporan Euromonitor International, pada kurun waktu 2012-2017 jumlah kaldu dan bumbu instan di Indonesia telah terjual sekitar 435.750 ton dengan angka penjualan 19 triliun rupiah. Sungguh angka yang fantastis. Bahkan diprediksi angka ini terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Meski sudah terjual hingga ratusan ribu ton, namun masih banyak yang belum mengetahui bahaya dibalik bumbu instan serta kaldu masak. Itulah sebabnya banyak yang menggunakannya setiap hari. Padahal ini akan jadi sumber penyakit dalam jangka panjang.
Risiko penggunaan bumbu instan ini disampaikan oleh Dr. Anna P. Roswiem, Dosen Biokimia IPB. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar bumbu instan menggunakan bahan seperti monosodium glutamat (MSG), disodium inosinat (IMP), dan disodium guanilat (GMP). Coba deh lihat kemasan, kamu akan menemukan bahan yang dimaksud dalam komposisinya.
Nah ketiga bahan tersebut jika dikonsumsi berlebihan bisa mengakibatkan penyakit kardiovaskular dan hipertensi.
Sebenarnya tak hanya kaldu atau bumbu instan seperti bumbu sop, rendang, atau nasi goreng saja yang mengandung garam (natrium/sodium) tinggi. Saus serta kecap dalam kemasan pun termasuk makanan yang tinggi garam.
Saus kemasan bisa mengandung 150 mg natrium per sendok makan sedangkan pada kecap bahkan mencapai 1000 mg per sendok makan. Padahal batas konsumsi garam per hari hanya sekitar 2000 mg natrium. Jadi, jika kamu makan 1 sdm kecap saja, itu sudah memakan ‘kuota’ garam setengahnya. Belum dari masakan lain.
Agar tidak menimbulkan masalah ke depannya, kamu bisa memilih alternatif bumbu yang tidak mengandung msg. Atau kurangi masak dengan bumbu instan dan menggantinya dengan bumbu buatan sendiri.
Sumber : industry.co.id (20/07/18), hellosehat.com (06/09/17), hellosehat.com (05/09/17)